Kaijan Ust. Zainal Abidin

05.07.08 (10:43 pm)   [edit]
Insyaallah akan dilaksanakan Kajian Islam Tempat : Masjid Raya Al-Falah, Sragen, Jawa Tengah. Tema : Misteri Dibalik Karomah Wali dan Ilmu kesaktian. Waktu : 08.00 s.d 14.00 WIB( Waktu Indonesia Barat) Contact Person : Abu Aska 081329184729, Zuhri 0271-7050443

Rukun Islam

10.01.06 (6:31 pm)   [edit]
Islam didirikan atas lima dasar, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma:
" Artinya : Islam didirikan atas lima dasar, yakni:
[1] Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.
[2] mendirikan shalat.
[3] mengeluarkan zakat.
[4] puasa ramadhan dan;
[5] beribadah haji." [Hadits Riwayat.Bukhari-Muslim]

[1]. Kesaksian tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah merupakan keyakinan yang mantap, yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya itu, seakan-akan dapat menyaksikan-Nya. Syahadah (kesaksian) merupakan satu rukun padahal yang disaksikan itu ada dua hal, ini dikarenakan Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah mubaligh (penyampai) sesuatu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jadi, kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah merupakan kesempurnaan kesaksian: "Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah." Atau, karena kesaksian (syahadatain) itu merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Amal tidak sah dan tidak akan diterima bila tidak dilakukan dengan keikhlasan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dengan tidak mengikuti manhaj rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ikhlas kepada Allah terealisasi pada kesaksian "tiada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah." Mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terealisasi pada kesaksian "bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya." Buah syahadah (kesaksian) yang terbesar ialah membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan terhadap makhluk serta tidak mengikuti selain para rasul-Nya.

[2]. Mendirikan shalat artinya menyambut Allah dengan mengerjakan shalat secara istiqamah serta sempurna, baik waktu maupun caranya. Salah satu buah atau hikmah shalat adalah mendapat kelapangan dada, ketenangan hati, dan menjauhi diri dari perbuatan keji dan mungkar.

[3]. Mengeluarkan zakat artinya, menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menyerahkan kadar yang wajib dari harta-harta yang harus dikeluarkan zakatnya. Salah satu hikmah mengeluarkan zakat adalah membersihkan jiwa dan moral yang buruk, yaitu kekikiran serta dapat menutupi kebutuhan Islam dan umat Islam.

[4]. Puasa Ramadhan artinya menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan cara meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkannya di siang hari di bulan Ramadhan. Salah satu hikmahnya ialah melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang disukai karena mencari ridha Allah Azza wa Jalla.

[5]. Beribadah haji ke baitullah (rumah Allah), artinya menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menuju ke Al Baitul Haram (rumah suci) untuk mengerjakan syiar atau manasik haji. Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan harta dan jiwa agar tetap taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu haji merupakan salah satu macam jihad fisabilillah.

Hikmah-hikmah rukun Islam, baik yang sudah kami sebutkan maupun yang belum kami sebutkan akan dapat menjadikan umat sebagai umat yang suci, bersih, beragama yang benar, dan memperlakukan manusia dengan penuh keadilan serta kejujuran. Kebaikan syariat-syariat Islam yang lain tergantung kepada kebaikan dasar-dasar ini. Kebaikan umatpun tergantung pada kebaikan agamanya, dan hilangnya kebaikan tingkah laku umatpun akan tergantung pada kadar hilangnya kebaikan agamanya.

Bagi yang ingin mengetahui penjelasan ini, silakan menyimak firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya: " Artinya : Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi." [Al A'raf :96-99] Untuk lebih jelasnya hendaklah Anda pelajari sejarah orang-orang terdahulu kita, karena dalam sejarah terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal dan bagi orang yang hatinya "bersih" (tidak ada hijab yang menutupi hatinya).

[Disalin dari kitab : Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In Gassim Zone, halaman:14-16]

BAGAIMANA MENJADIKAN HUKUM HANYA MILIK ALLAH SEMATA

10.01.06 (6:24 pm)   [edit]
Bagaimana menjadikan hukum hanya milik Allah Semata


Jawabnya adalah dengan mengharamkan yang haram dan menghalalkan yang halal.

Oleh sebab itu, menjadi suatu keharusan bagi kita untuk mengetahui perkara perkara yang halal dan yang haram di atas ilmu.

Hendaklah kita berhukum kepada Allah dalam masalah shalat. Hendaklah kita berhukum kepada Allah dalam masalah puasa. Hendaklah kita berhukum kepada Allah dalam masalah zakat, haji, perkawinan, jenazah, pakaian, makan, minum, urusan pribadi, keluarga, masyarakat, dan ummat. Hendaklah kita berhukum kepada Allah dalam masalah ekonomi, perdamaian, dan peperangan. Hendaklah kita berhukum kepada Allah dalam setiap permasalahan hidup kita...

Oleh sebab itu, menjadi keharusan bagi kita untuk mengetahui nash nash yang mengharamkan dan menghalalkan, serta memerintahkan dan melarang, kemudian kita mengharamkan apa apa yang telah Allah haramkan, kita halalkan apa apa yang telah Allah halalkan, kita kerjakan apa apa yang telah Allah perintahkan, dan kita tinggalkan apa apa yang telah Allah larang. Konsekuensi dari perkara ini adalah bersungguh sungguh dalam bidang ilmu, duduk di samping ahli ilmu, mendalami berbagai macam referensi, serta mengambil manfaat dari ulama ummat yang terdahulu. Semua ini dilakukan sesuai kemampuan dan kesanggupan.

Fatwa Syaikh Rabi’ Bin Hadi Al-Madkhali dalam menyikapi krisis Libanon

09.14.06 (9:18 pm)   [edit]
Beliau ditanya: “Apa pendapat Anda wahai Syaikh yang mulia tentang berbagai keadaan genting (krisis) di Libanon, Irak, Palestina? Jazakumullah khairan.”
Jawaban: “Demi Allah, kami berpandangan bahwa jihad tetap tegak sampai hari kiamat dan merupakan perkara yang wajib dilakukan oleh umat ini. Namun umat (Islam) ini telah melalaikan banyak perkara agama, diantaranya adalah jihad itu sendiri, sehingga Allah memberikan kekuatan kepada musuh-musuh untuk menguasai mereka.

“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah [1 ] dan kalian mengambil ekor-ekor sapi (beternak) serta kalian senang dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah Azza Wajalla –bukan di atas jalannya kaum Rafidhah, bid’ah dan khurafat- maka Allah akan mencampakkan kehinaan pada diri kalian. Dan Dia (Allah) tidak akan mencabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada agama kalian.”

Maka langkah yang paling pertama untuk menuju kemuliaan dan keluar dari kehinaan dan kerendahan adalah kembali kepada agama Allah. Ini langkah pertama dan bukan kembali kepada agamanya kaum Rafidhah yang ekstrim, yang mengkafirkan para shahabat lalu mengangkat bendera jihad!

Mereka tidak kembali kepada agama, namun justru memerangi agama dan orang-orang yang komitmen dengannya! Bagaimana mungkin ini akan mendapatkan pertolongan!? Bagaimana mungkin ini dikatakan sebagai jihad di jalan Allah ?! Jihad haruslah dilakukan untuk menegakkan kalimat Allah.Terkadang seseorang terbunuh dalam berjihad, namun dia masuk neraka disebabkan karena dia tidak melakukannya dengan niat untuk menegakkan kalimat Allah Tabaraka wa Ta’ala. “Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah fi sabilillah”.

“Seseorang ada yang berperang karena modal keberanian semata, ada orang yang berperang karena semangat saja, ada yang berperang karena untuk mendapatkan pujian di mata manusia, yang manakah di jalan Allah? Maka beliau menjawab: “Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka itulah fi sabilillah (di jalan Allah) Ta’ala”.

Maka sebelum melakukan segala sesuatu, wajib bagi kaum muslimin untuk membenahi berbagai keadaan mereka dan kembali kepada agama yang telah dibawa oleh Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Serta kembali di atas petunjuk orang-orang yang telah bersungguh-sungguh dalam menyebarkan agama ini, yaitu para shahabat yang mulia, yang menyebarkan agama, berupa amalan-amalan yang shalih dan syi’ar-syi’ar Islam yang benar .Inilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam berjihad yaitu untuk meninggikan kalimat-Nya.

Sekarang saya bertanya kepada kalian : “Bendera yang ada di Libanon,yaitu bendera yang diangkat oleh Hizbullah, apakah bendera yang berhak dikatakan bahwa itu merupakan bendera di jalan Allah?! Apakah dikatakan bahwa itu jihad di jalan Allah ?! Sementara mereka (Hizbullah yang termasuk beragama Syi’ah Rafidlah, red) mengkafirkan para shahabat Muhammad - Shallallahu ‘alaihi wassalam - dan mempermainkan al-Qur’an dan merubahnya - dengan perubahan yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sekalipun - !?

Kalian belum pernah membaca tentang kaum Rafidhah ? Bagi siapa yang membaca tentangnya, dia akan mendapati bahwa mereka lebih parah dalam melakukan perubahan terhadap agama Allah Ta’ala dibanding kaum Yahudi dan Nashara. Demi Allah, kami ingin berjihad namun dengan jihad yang benar. Maka wajib bagi umat ini untuk kembali kepada agamanya, kemudian setelah itu melakukan persiapan:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu “ (QS Al Anfal:60).

Sekarang ini, kelompok Hizbullah berperang semenjak tiga pekan yang lalu, tidak ada yang terbunuh dari mereka melainkan hanya delapan orang. Sementara yang terbunuh dari rakyat Libanon hampir mencapai seribu! Dan yang terusir dari mereka berjumlah ribuan, fasilitas-fasilitas umum mereka dihancurkan! Apakah ini yang dikatakan jihad yang dikehendaki Allah?!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berjihad di Badar, di Uhud, di Khandaq dan ditempat lainnya, tidak satupun anak kecil yang terbunuh! Dan tidak satupun wanita yang terbunuh! Namun mereka ini (Hizbullah, red) menyusup dalam barisan para wanita dan anak-anak kecil, lalu datanglah berbagai serangan yang diarahkan (oleh Yahudi kafir, red) kepada mereka yang patut dikasihani. Apakah ini jihad?!

Sekarang ini Yahudi telah menguasai daerah yang luas dan besar, ada dua puluh kampung di Libanon. Apakah ini jihad? Apakah ini yang dimaksudkan? Apakah kita berjihad agar wanita dan anak-anak kaum muslimin dibunuh, yayasan-yayasan mereka dihancurkan! Lalu ini yang dikatakan hasil dari jihad itu! Inilah jihad ‘akrobatik’. Inilah adalah jihad model Rafidhah! Maka wajib bagi kaum muslimin untuk berfikir dan kembali kepada agama mereka, sebelum melakukan segala sesuatu. Lalu setelah itu, mereka berjihad dengan tujuan meninggikan kalimat Allah.

Sesungguhnya kita lebih mengimani tentang syari’at jihad dibanding mereka ini yang merupakan para pendusta yang hanya mengaku saja! Kami mengimaninya akan tetapi kami mengatakan kepada kaum muslimin : “Kembalilah kepada agama ini, bekali diri kalian untuk persiapan jihad dan mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala. Sebab kalian tidak mungkin mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala, kecuali jika kalian berperang dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah dan kalian berada di atas agama yang benar.

Namun apa yang terjadi di Iraq? Berapa banyak kaum muslimin yang telah dibunuh oleh kaum Rafidhah!? Lebih dari seratus ribu jiwa atau lebih yang mereka sembelih dari kalangan para wanita, anak-anak, mereka usir, mereka merusak rumah-rumah, masjid-masjid dan menginjak-injak mushaf-mushaf! Dan berbagai kelakuan lainnya yang –demi Allah- tidak dilakukan oleh orang-orang Yahudi! Dan tatkala mereka melakukan berbagai tindakan kekejian ini semua, lalu mereka pun membuka front (di Libanon), mereka menertawai Ahlus Sunnah dan bergembira atas apa yang menimpa mereka.

Apakah kalian menangisi Ahlus Sunnah dari penduduk Irak - dalam keadaan mereka disembelih, diusir, ratusan masjid-masjid mereka dirusak ?! Mungkin mencapai seratus ribu jiwa atau lebih yang terbunuh dari mereka! Apakah mereka (kaum Rafidhah) menangisi kematian kalian?! Apakah mereka mengangkat suara buat kalian?! Sama sekali tidak, sama sekali tidak!

Maka tatkala si Rafidhi - yang beraliran kebatinan ini datang - banyak yang berpandangan bahwa dia mengangkat bendera jihad dan yang akan memimpin umat menuju kemuliaan dan pertolongan. Ini merupakan keberuntungan besar - diantara keberuntungan kaum Rafidhah- ! Sekarang ini umat Islam bersorak dan bertepuk tangan untuk mereka!!! Dan inilah yang diinginkan oleh kaum Rafidhah. Dimana dia (pimpinan Hizbullah) ini sekarang? Sekarang dimana panglima ini berada?! (Ketauhilah) Dia ada di tempat persembunyian, dia dan kelompoknya ada di tempat persembunyiannya! Sementara kehancuran dan kebinasaan menimpa rakyat jelata Libanon ! Penyembelihan (terhadap kaum muslimin Ahlus Sunnah) masih saja berlanjut di Irak! Darah kaum muslimin di Irak sangatlah murah, tidak sepantasnya disebut-sebut (dianggap berharga) menurut mereka!

Bahkan darah seluruh kaum muslimin dan harta mereka adalah halal menurut kaum Rafidhah, sebab mereka menganggapnya kafir! Inilah hukum yang mereka terapkan!. Lalu dimana kita meletakkan akal kita? Sekarang ini kebanyakan yang membimbing kaum muslimin adalah orang-orang yang jahil dan bodoh! Tokoh-tokoh yang jahil sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ! Orang jahil (bodoh) yang berpenampilan sebagai ‘alim (pandai) dan tidak mengetahui hakekat Islam! Tidak mengetahui kekufuran, penyimpangan dan perbuatan zindiq yang dimiliki kaum Rafidhah.

Telitilah kitab tafsir - dari kitab-kitab tafsir yang dimiliki Rafidhah- , mulai dari surah Al-Fatihah, perhatikan perubahan yang mereka lakukan, dimana orang Yahudi pun merasa malu darinya! Shirothol mustaqim “Jalan yang lurus”, maknanya Ali radhiallahu anhu! Ghoiril maghdubi alaihim “Bukan jalan orang-orang yang dimurkai”, maknanya adalah jalan Abu Bakar, Umar dan Utsman –radhiallahu anhum-! “Alif Laam Mim. Itulah kitab yang tidak ada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”, makna orang-orang yang bertaqwa dalah pengikut Ali radhiallahu anhu (maksudnya kaum Rafidhah)!

Dunia, Akhirat, Surga, semuanya milik Ali radhiallahu anhu dan para pengikutnya (maksudnya Rafidhah)!. “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu”, mereka mengatakan: yang dimaksud nyamuk adalah Ali radhiallahu anhu, sedangkan yang lebih rendah adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Yaitu Ali radhiallahu anhu kadang-kadang dianggap seperti nyamuk oleh mereka. Ini termasuk perbuatan zindiq dan cercaan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Kadang-kadang mereka menganggap Ali radhiallahu anhu sebagai binatang melata, yang melata di muka bumi. Dan dia sebagai bintang, dia sebagai matahari, dia adalah langit sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai buah Tin dan Ali radhiallahu anhu sebagai buah Zaitun, para Imam (mereka) sebagai bukit Sinai. Ayat-ayat Al-Qur’an dan tanda-tanda kekuasaan alam seluruhnya yang dimaksud adalah para Imam mereka! Sedangkan tanda-tanda kemunafikan, kekufuran, siksaan, ayat-ayat celaan dan ancaman semuanya diterapkan kepada para shahabat .Abu Bakar –radhiallahu anhu- disiksa dengan siksaan yang paling keras, seperti Iblis. Dan Umar adalah setan di tempat manapun disebutkan dalam Al-Qur’an.

Ayat-ayat tentang hari Kebangkitan dan hari Pembalasan, menurut mereka yang dimaksud adalah keluarnya sang penegak hukum (Imam Mahdi, pen)! Berbagai macam penyelewengan yang tak terhitung banyaknya dalam kitab Allah dan berbagai kedustaan terhadap Ali radhiallahu anhu dan Ahlul Bait yang tak terhitung banyaknya!

Semua yang menjelaskan tanda kekuasaan maksudnya adalah Ahlul Bait, engkau tidak membaca satu ayat pun dalam Al-Qur’an, baik ayat Kauniyyah maupun ayat Syar’iyyah melainkan mereka menyelewengkannya. Ayat-ayat tentang Tauhid mereka rubah menuju kepada kesesatan mereka!. “?Allah berfirman: Janganlah kalian menjadikan dua sesembahan.” Ayat ini (sebenarnya) mengajak kepada Tauhid dan memberi peringatan dari kesyirikan. (Namun) mereka mengatakan: “Janganlah kalian mengangkat dua Imam!” Ayat-ayat Tauhid mereka tidak jelaskan, bahkan menghindar darinya! Kalaupun jika mereka menjelaskannya, maka mereka merubahnya. Mereka tidak menyisakan sesuatu dari ayat tersebut melainkan mereka merubahnya!

Mereka adalah musuh-musuh Islam, cukuplah bagi mereka sejarah hitam mereka yang selalu bersama Yahudi dan Nashara. Merekalah yang membawa pasukan Tartar dan menyembelih puluhan ribu, bahkan mungkin sejuta atau bahkan lebih! Merekalah yang meruntuhkan khilafah Abbasiyyah! Dalam perang di Afghanistan, sebagai negara tetangga mereka, mereka (kaum Syiah Rafidlah Iran) tidak ikut serta bersama kaum muslimin sedikitpun!!! Tidak di dalam Afghanistan dan tidak pula di luarnya.

Tatkala Amerika datang ke Afghanistan untuk menjatuhkan kekuasaan Taliban, maka mereka menjadi tameng terkuat bersama Amerika dalam memerangi kaum muslimin. Merekalah yang turut mendatangkan Amerika dan sekutunya ke Irak. Mereka menambah kekuatan bersamanya untuk menyembelih kaum muslimin. Apakah ini Islam yang kita berjihad untuknya?

Kaum Rafidhah ini lebih berbahaya dari Yahudi dan Nashara, dan apa yang menimpa kaum muslimin melalui tangan Rafidhah lebih berbahaya dari apa yang menimpa kaum muslimin melalui tangan Yahudi dan Nashara. Pahamilah perkara ini, adapun mereka yang (tertipu). Apakah mereka disesatkan ataukah mereka orang-orang yang tidak mengetahui ?!.

Apakah ini pertolongan Allah? Apa yang telah dilakukan terhadap Ahlus Sunnah di Irak?! Apakah pernah engkau membimbing dengan satu ucapan untuk menasehati keluarga dan kaummu tentang kaum Rafidhah Bathiniyyah untuk menyeru agar mereka menahan diri (dari menyiksa) kaum muslimin?!

Demi Allah, saya yakin bahwa mereka tidaklah melakukan ini melainkan untuk mempermainkan kaum muslimin dan menertawai mereka. Allah Maha mengetahui apa tujuan mereka di belakang semua ini!

Jangan kalian membenarkan perselisihan mereka dengan Amerika! Ini semua dusta. Berapa banyak pembicaraan seputar pembuatan sel (instalasi) nuklir yang ada di Iran? Apakah tujuan mereka dengan menyimpan bahan nuklir tersebut, apakah untuk memerangi kaum Yahudi? Mereka pendusta!

Iran selalu mengumumkan hal ini semenjak 70 tahun yang lalu, sementara kaum muslimin memerangi Yahudi dalam berbagai peperangan. Sudah berapa banyak mereka (kaum muslimin) mengikuti peperangan, menyumbangkan harta, turut berperan serta. Sementara Iran menghilang (tidak turun serta) ! Sekarang mereka bersorak dan menghendaki kaum muslimin memasuki pertempuran sedangkan mereka menghilang. Belum berhenti satu peperangan hingga dibuka kembali peperangan yang baru.

Perencanaan pembuatan sel (instalasi) nuklir tersebut tidaklah dipersiapkan melainkan untuk negara-negara Teluk! Kaum muslimin harus memahami hal ini. Perhatikanlah perkara-perkara ini. Apakah dengan seperti ini lalu aku menganggapnya sebagai jihad di jalan Allah? Sama sekali tidak! (dengan sebab): Pertama: Aqidah mereka jelas, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebagiannya. Kedua: Jihad merekapun jelas, dimana mereka bersembunyi di gua-gua, menyusup di rumah-rumah dan gedung-gedung! Allah Ta’ala lebih mengetahui, mungkin saja mereka mengutus Yahudi untuk menyerang tempat tersebut! Saya tidak menganggap mustahil hal tersebut! Sadarlah kalian terhadap makar dan tipu daya kaum Rafidhah.

Demi Allah mereka menertawai Ahlus Sunnah, mereka memiliki orang-orang, di negeri Arab dan negeri-negeri Islam yang bekerja untuk mereka, guna menjembatani tersebarnya keyakinan Rafidhah di seluruh dunia Islam.

Sekarang dakwah mereka tersebar di dunia Islam, di bagian Asia Timur mereka memiliki Ma’had, sekolah, para da’i di negara-negara Afrika. Telah berlalu waktu dimana mereka tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan ini semua. Hingga datangnya sebagian kelompok yang berkhianat, lalu membukakan jalan bagi mereka dan memberi kesempatan kepada mereka untuk menyebarkannya di dunia Islam.

Sekarang merekapun menertawakan kaum muslimin. Tangan mereka masih berlumuran darah kaum Muslimin di Iraq, lalu bersamaan dengan itu mereka ingin agar kita membantu mereka?!

Sementara musibahnya menimpa rakyat Libanon dan rakyat Palestina. Lalu apa kerugian yang dialami kaum Rafidhah dalam semua peperangan ini?! (Tidak ada!!-pen)

Baik di Palestina, di Afghanistan dan selainnya dari semenjak 70 tahun yang lalu hingga sekarang? Apa yang telah diperbuat oleh para pendusta ini?!”

Footnote : 1. Salah satu jenis praktek yang dilakukan dengan cara riba

(Dikutip dari ceramah Asy Syaikh Rabi’ Ibn Haadi al Madkhali yang berjudul “Penghalang-penghalang dalam menuntut ilmu” pada hari Jum’at. Dalam acara: Daurah Imam Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah di Thaif, pada tanggal: 10-7-1427 H, bertepatan dengan tanggal 4-8-2006 M di Masjid Raja Fahd rahimahullah. Ditranskrip oleh Al-Akh Al-Fadhil Sulthan Al-Juhani dan diterjemahkan oleh Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi. URL sumber http://www.sahab.net/forums/s...)

Untuk Apa Kita Diciptakan ?

06.07.06 (11:38 pm)   [edit]
Untuk apa kita diciptakan ?,kenapa kita harus beragama? Kenapa kita harus melakukan ini dan kenapa tidak boleh melakukan itu ?

Kalo teringat hal itu ana sangat bersyukur kepada Allah yang telah membukakan sebuah jawaban yang membuat hati ini tenang, badan ini bisa bersujud dengan ikhlas, bisa merasa takut, cinta dan serta beribadah dengan benar.

Ya pertanyaan-pertanyaan itulah yang selama ini membuat hati ini gundah, dan sekian lama mencari.

Berbagai kelompok pengajian pernah ane ikuti, dari belajar pada Guru Ngaji NU saya, kemudian belajar ke guru sekolah saya yang Muhammadiyah, Khuruj Bersama Jama'ah Tabligh hingga Liqa' dengan kawan-kawan di Ikhwanul Muslimin dulu.

Namun jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ana nanti tak kunjung tiba hingga suatu hari ana, ikut kajian bersama ikhwan-ikhwan salaf, ketika itulah hidayah itu tiba kita Ana dengar Firman Allah", Tidaklah Aku(Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku", inilah ayat yang kemudian dijelaskan bahwa kita ini, hidup karena ada yang menciptakan, tidaklah kita menciptakan diri kita, atau kita ada dengan sendirinya, tetapi Allah lah yang menciptakan kita, adapun tujuan penciptaan itu adalah agar kita mentahidkan Dia dalam rububiyah, uluhiyyah dan asma' dan sifatnya. Dialah Allah sang Maha Pencipta yang pantas untuk kita sembah.

Dan tidaklah Allah membiarkan manusia tersesat didunia ini melainkan Dia utus seorang utusan dari bangsa manusia yang berbicara dengan bahasa manusia, yang membawa khabar gembira dan peringatan dari Raabnya, lalu ia bimbing manusia dari kegelapan kebodohan menuju keterang-benderangan ilmu Islam yang mulia ini, dialah Muhammad Sholaallahu 'alaihi wasalam. sudah selayaknyalah manusia membenarkan kerasulannya, perkataannya, melakukan apa yang beliau perintahkan dan menjauhi larangan yang beliau terangkan, karena ia tidaklah berkata dari hawa nafsunya akan tetapi perkataannya adalah dari wahyu yang diwahyukan dari Rabbnya.

dan Islam ini akan terpecah-belah dan tidaklah akan selamat kita ini kecuali mengikuti Rasullullah kemudian Shohabat, Tabi'in dan atbauttabi'in yang sholih (salafussholih) dalam seluruh aspek keagamaan islam ini.

itulah jawaban yang selama ini ana cari. entah apa yang akan terjadi jika Allah tidak menujuki jalan yang HAQ ini Islam dan Sunnah Berdasarkan Pemahaman Salaf Al Ummah yang sholih.

dan akhirnya ana memohon kepada Allah agar meneguhkan diri yang lemah ini didalam memegang teguh Islam dan sunnah dengan pemahaman salaf hingga akhir hayat nanti......

Tauhid; Hakekat Dan Kedudukannya

05.27.05 (6:25 am)   [edit]

Tauhid; Hakekat Dan Kedudukannya


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab



Firman Allah Ta'ala:
"Aku menciptakan jin dan manusia, tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariat: 56).

Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah Ta'ala dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.

Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Dan suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila diniati ikhlas, semata-mata karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut." (An-Nahl: 36)
 
Thaghut yaitu setiap yang diagungkan -selain Allah- dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun syetan. Menjauhi thaghut yaitu mengingkari, membencinya, tidak mau menyembah dan memujanya dalam bentuk dan dengan cara apapun.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan
hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka keduanya telah mendidikku waktu kecil." (Al-Isra': 23-24)

"Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja) dan janganlah berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya." (An-Nisaa': 36)

Syirik yaitu memperlakukan sesuatu -selain Allah- sama dengan Allah dalam hal yang merupakan hak khusus bagi-Nya.

"Katakanlah (Muhammad): Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikianlah yang diwasiatkan Allah kepadamu, supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai kedewasaannya, dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu, agar kamu ingat. Dan (kubacakan): Sungguh inilah jalan-Ku, berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (Al An'am: 151-153).
 
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
"Barang siapa yang ingin melihat wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang tertera diatasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah Ta'ala:...(surah Al-An'am 151-153, seperti tersebut di atas)."
 
Mu'adz bin Jabal, radhiyallahu 'anhu, menuturkan:
"Aku pernah diboncengkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku: Hai Mu'adz, tahukah kamu apakah hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliaupun bersabda: Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya. Aku bertanya: Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang? Beliau menjawab: Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri." (HR Bukhari dan Muslim dalam shahih mereka)

Dikutip dari buku: "Kitab Tauhid" karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da'wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.